Selasa, 20 Januari 2009

JURNAL TELEKOMUNIKASI

PROFIL ISI DAN PENYAJIAN SIARAN TELEVISI LOKAL DI JAWA BARAT

Komposisi Isi Siaran TV Lokal

Program acara siaran faktual mendominasi isi siaran TV Lokal di Jawa Barat. Hampir setengah dari seluruh acara TV Lokal di isi oleh siaran faktual, sedikit melampaui acara non faktual. Sedangkan kandungan iklan hanya 10,1% dari seluruh jam siaran TV Lokal. Berikut tabulasi data tentang komposisi isi siaran TV Lokal.
Stasiun TV Program Siaran Jumlah
Faktual Non Faktual Iklan
Jam % Jam % Jam % Jam %
TVRI Jabar 46,2 69,7 16,2 24,4 3,8 5,8 66,2 100
BTV 174,9 47,4 146,3 39,6 47,6 12,9 368,9 100
MQTV 169,8 48,8 162,4 46,6 15,8 4,5 348,1 100
STV 180 47,5 148,6 39,2 50,4 13,3 379 100
Jumlah 570,9 49,1 473,5 40,7 117,6 10,1 1162 100
Dari seluruh stasiun televisi yang disurvei, TVRI menghabiskan paling banyak waktunya untuk menyajikan siaran faktual. Namun tidak berarti secara absolut TVRI menguasai seluruh jam siaran TV Lokal untuk acara faktual, sebab jam siaran TVRI Jabar hanya tiga jam.

Kategori Sosial Khalayak Siaran Faktual

Siaran TVRI Jabar untuk acara faktual hadir memenuhi kebutuhan pemirsa, baik mereka yang dikategorikan anak, remaja, maupun dewasa. Berbeda dengan TV swasta lokal, TVRI Jabar mengalokasikan 100% jam siaran faktualnya bagi khalayak berusia dewasa.
Bandung TV membagi porsi jam siaran yang sama antara orang dewasa dan anak dan hanya setengahnya diperuntukkan bagi kelompok remaja. Perimbangan yang mencolok ditemukan di STV dan MQTV. Kedua TV ini mengalokasikan masing-masing 81% dan 80% jam siaran faktual untuk kelompok dewasa. Komposisi ini terkait dengan tema yang sering diusungkan kedua TV ini.

Kategori Isi Siaran Faktual

Bila dilihat dari tema/isi, siaran faktual bisa dikategorikan ke dalam sembilan kelompok. Kesembilan kategori tema tersebut adalah politik (18,7%), ekonomi (3,9%), sosial budaya (11,7%), kriminal (11,6%), kesehatan (24,9%), kuliner (2,1%), agama (18%), pendidikan (8,3%) dan gaya hidup (94,9%).
Hingga kini tidak banyak aduan menyangkut tema-tema yang disajikan dalam siaran faktual, kecuali untuk sajian kriminal dan kesehatan. Sajian berita kriminal sering diadukan pemirsa karena tayanganya sarat dengan adegan kekerasan yang dikhawatirkan menimbulkan efek peniruan bagi pemirsa, khususnya anak-anak dan remaja. Sedangkan sajian acara kesehatan banyak dikeluhkan karena acara ini sering bercampur dengan praktek yang dikategorikan publik sebagai “mistik”, dan sekedar menjual obat semata. Lebih dari itu, tampilnya “terapi” di banyak TV Lokal di Jawa Barat dipandang menjenuhkan dan mengesankan seakan-akan warga Jabar banyak yang sakit sehingga acara terapi muncul di hampir semua TV Lokal di Jabar.

Variasi Program Acara Siaran Faktual TV Lokal

Talk show menjadi pilihan bentuk acara faktual yang dominan di TVRI Jabar, BTV dan MQTV. Hanya STV yang menampilkan acara feature lebih banyak dibandingkan talk show. Berbeda dengan STV, MQTV menyajikan talk show hampir berimbang dengan feature.Talk show menjadi acara faktual paling dominan di BTV. Berikut ini tabulasi program faktual TV Lokal dan satu bulan.
Stasiun TV Program Faktual Jumlah
News Talk Show Feature
Jam % Jam % Jam % Jam %
TVRI Jabar 14,8 24,8 53,7 6,6 14,3 46,2 100
BTV 29,4 16,4 100,2 57,3 45,3 25,9 174,9 100
MQTV 18 10,6 77,6 45,7 74,2 43,7 169,8 100
STV 38 21,1 65,6 36,4 76,4 42,4 180 100
Jumlah 100,2 17,9 268,2 46,9 202,5 35,5 570,9 100
Di sisi lain, dominasi talk show dalam sebuah acara siaran TV Lokal mengisyaratkan kehendak TV Lokal untuk menjadi media penyaluran aspirasi warga di daerah. Kehadiran TV Lokal telah memainkan keleluasaan kepada khalayak di daerah untuk menyalurkan opini tentang berbagai hal yang terjadi di daerahnya.
Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) yang dikeluarkan KPI sebagai acuan isi siaran televisi dan radio, ternyata berdasarkan pemantauan KPID Jabar selama Mei-Agustus 2007 menunjukkan kecenderungan menurun. Meski demikian jumlah pelanggaran tiap bulannya tergolong tinggi. Pada bulan Mei terjadi sebanyak 46 jenis pelanggaran, baik karena acaranya mengandung unsur kekerasan, porno dan mistik. Jumlah ini menurun pada Juni yang mencapai 27 Kasus, Juli 12 kasus dan Agustus sebanyak 14 kasus pelanggaran. Jumlah pelanggaran lebih banyak ditemukan di saluran televisi nasional. Pada Mei 2007 ditemukan 46 kasus pelanggaran, 42 kasus pelanggaran pada bulan Juni,, 32 kasus pelanggaran pada bulan Juli dan 24 kasus pelanggaran pada bulan Agustus 2007. Perbedaan jumlah ini boleh jadi karena jam siaran TV Nasional lebih panjang dibandingkan TV Lokal. Namun bila dilihat dari rata-rata frekuensi pelanggaran, perbedaannya tidak menonjol. Artinya potensi terjadinya pelanggaran pada stasiun lokal dan nasional hampir sama. Berikut hasil monitoring TV Lokal dan Nasional.
Nama TV Kekerasan Porno Mistik Dll Jumlah
A. Lokal f % f % f % f % f %
Mei 11 28 12 30 14 35 3 7,5 40 100
Juni 6 22 12 44 7 26 2 7,4 27 100
Juli 6 50 5 41,7 1 8,3 0 0 12 100
Agust 10 71 4 29 0 0 0 0 14 100
Rata-rata 8,25 42,8 8,25 36,2 5,5 17,3 1,25 3,7 23,3 100
B.Nasional
Mei 12 26 26 57 8 17 0 0 46 100
Juni 13 30 15 35 15 35 0 0 43 100
Juli 3 9,38 8 25 21 66 0 0 32 100
Agust 4 17 4 17 16 67 0 0 24 100
Rata-rata 8 20,6 13,3 33,5 15 46,3 0 0 36,3 100
Jumlah pelanggaran karena diindikasikan mengandung unsur pornografi dan mistik lebih menonjol dibandingkan siaran yang mengandung kekerasan yang diadukan publik terhadap tayangan TV Lokal. Jumlah ini jauh berbeda dengan kandungan acara TV Nasional. Kendati demikian, jumlah aduan yang disampaikan masyarakat umumnya berkaitan dengan acara-acara nonfaktual. Beberapa acara yang kerap diadukan adalah sinetron yang tidak mendidik, iklan yang bertentangan dengan kaidah umum maupun acara mistik.

Kamis, 15 Januari 2009

PRESENTASI SISTEM TELEKOMUNIKASI

5. GERISIK INTERFERENSI
Interferensi berarti bahwa sinyal yang tidak dikehendaki menumpangi sinyal yang dikehendaki sehingga menimbulkan gangguan pada sinyal yang dikehendaki.
Interferensi dibagi dua golongan yaitu:
a. Interferensi antar kanal yang sama (co-channel)
b. Interferensi dari kanal yang berdekatan.
Tiga elemen yang mempengaruhi interferensi terhadap sinyal yang dikehendaki.
a. Perbandingan antara daya sinyal yang dikehendaki terhadap sinyal yang tidak dikehendaki (D/U).
b. Perbedaan frekuensi antara sinyal yang dikehendaki dan yang tidak dikehendaki.
c. Keadaan modulasi dari sinyal yang dikehendaki dan sinyal interferensi (perluasan spektrum).

(1) Interferensi pada Kanal yang Sama (Apabila frekuensi gelombang pembawa sama)
Apabila ada interferensi dari gelombang multiplex FM yang mempunyai frekuensi gelombang pembawa yang sama, gelombang interferensi akan tertumpang pada gelombang yang diinginkan.
Di sini gerisik interferensi adalah kombinasi dari dua bentuk yaitu
a) Beat akan dihasilkan antara gelombang pembawa sinyal yang dikehendaki dengan gelombang interferensi.
b) Beat akan dihasilkan antara gelombang pembawa dari sinyal interferensi dengan gelombang sisi atas dan bawah dari gelombang yang dikehendaki.
Gerisik output dari kedua kombinasi ini lebih rendah sebesar D/U daripada output sinyal yang dikehendaki.
Jadi perbandingan antara sinyal dan gerisik interferensi (S/I) adalah
S/I = D/U
Apabila derajat modulasinya tidak terlalu kecil, suatu daerah dari (S/I)≠(D/U) terbentuk.
(2) Interferensi Pada Kanal yang Sama (Apabila frekuensi gelombang pembawanya tidak sama)
Gerisik interferensi yang masuk di dalam frekuensi base band f adalah jumlah dari dua kombinasi berikut:
a) Beat antara gelombang pembawa yang dikehendaki dengan sisi gelombang interferensi terpisah sebesar f.
b) Beat antara gelombang pembawa interferensi dengan sisi gelombang yang dikehendaki juga terpisah sebesar.
(3) Beat antara Gelombang Pembawa
Dalam hal beat antar frekuensi-frekuensi tunggal maka S/N yang disebabkan oleh gerisik interferensi adalah:

(4) Interferensi dari Kanal yang Berdekatan
Interferensi akan berkurang apabila selektipitas dari pesawat penerimaannya baik dan apabila frekuensi
Akan meningkat apabila indeks modulasinya diperbesar.
Volume interferensi maximum pada kanal frekuensi tertinggi.
(5) Kecacatan Propagasi
Apabila adanya gelombang pantulan tanah atau gelombang multipath di dalam duct merubah waktu tunda dari sinyal utama, kecacatan fasa akan timbul karena fasa dari sinyal berubah terrhadap frekuensi dalam band frekuensi yang disalurkan.
(6) Dalam Hal Penyaluran TV
TV hitam-putih hanya mereproduksi informasi untuk terang dan nada gambar.
TV berwarna harus memancarkan dan mereproduksi juga informasi warna.
Tingkat warna, derajat kejenuhan dan tingkat terang dinamakan 3 atribut dari warna.
(a) Karakteristik Frekuensi Amplitudo dan Group Delay
Karakteristik frekuensi amplitudo dan fasa dari sinyal video dipengaruhi oleh bagian FM.

Disini dan adalah karakteristik amplitudo dan fasa pada bagian FM dan fm=frekuensi sinyal video.
Pengaruh karakteristik frekuensi amplitudo dari sinyal video
Apabila karakteristik frekuensi dalam bagian FM adalah simetri genap, dan apabila gelombang sisi pertama mendapat pengaruh yang kuat dibandingkan dengan gelombang pembawanya, A’p akan lebih besar dari 1, dengan akibat amplitudo sinyal video menjadi tinggi dan sebaliknya.
Apabila karakteristik frekuensi amplitudo dalam bagian FM adalah simetri ganjil A’p sama dengan 1, sehingga tidak ada pengaruh.
Apabila karakteristik frekuensi fasa dalam bagian FM dalam sisi simetri genap, dengan akibat amplitudonya mengecil.

Apabila karakteristik fasa dalam bagian FM dalam simetri ganjil A’ø=1 sehingga tidak ada pengaruhnya.
Karaktristik Amplitudo dan fasa dari sinyal video
Makin kecil pengaruhnya, berarti makin datar karakteristik amplitudo dan group delay pada bagian FM.
Ditinjau dari segi karakteristik amplitudo dari sinyal video, diinginkan bahwa karakteristik amplitudo di bagian FM terletak di simetri ganjil dan karakteristik delay pada simetri genap.
Ditinjau dari segi karakteristik fasa dari sinyal video, diinginkan bahwa karakteristik amplitudo pada simetri genap.
(b) Perbedaan Penguatan (DG) dan Perbedaan Fasa (DP)
Sifat-sifat DG dan DP yang disebabkan oleh bagian FM dari persamaan diatas dapat dinyatakan.
1) tingkat perbedaan amplitudo karakteristik frekuensi dalam bagian FM menentukan DG : bagian yang linier dan kurve ke dua dari karakteristik amplitudo frekuensi tidak menimbulkan persoalan, tetapi lebih dari tingkat komponen ke tiga akan mempengaruhi DG.
2) DG akan meningkatkan sebanding dengan kuadrat frekuensi differensial.

SISTEM TELEKOMUNIKASI

I. Pendahuluan

1. Model Sistem Telekomunikasi

Ada tiga bagian penting pada setiap sistem komunikasi, yaitu pemancar, penerima, dan kanal komunikasi. Pemancar melakukan suatu proses supaya sinyal yang ditransmisikan sesuai dengan karakteristik kanal komunikasi yang digunakan untuk mendapatkan transmisi yang efisien. Atau dengan kata lain pemancar mempunyai fungsi untuk menyiapkan sinyal informasi yang akan dikirim sedemikian rupa sehingga bias mengatasi hambatan yang diberikan oleh kanal. Proses yang dilakukan dalam pemancar antara lain modulasi dan coding.

Gambar 1.1 Pemodelan Sistem Komunikasi

Penerima melakukan proses pada sinyal keluaran dari kanal untuk memperoleh kembali sinyal pesan/informasi. Karena adanya pengaruh noise, distorsi dan interferensi, sinyal yang diperoleh kembali tidak persis sama dengan aslinya. Operasi yang dilakukan pada penerima antara lain penguatan, demodulasi dan decoding untuk membalikkan proses yang dilakukan pada pemancar dengan kesalahan sekecil mungkin. Filtering juga salah satu fungsi penting yang dilakukan oleh penerima.

2. Bandwith

Untuk komunikasi real-time diperlukan bandwidth transmisi yang cukup untuk mengakomodasi spektrum sinyal. Distorsi akan terjadi jika bandwidth yang diperlukan tidak mencukupi. Sebagai contoh, beberapa megahertz bandwidth diperlukan untuk transmisi video sinyal televisi, sedangkan untuk suara manusia bandwidth sebesar 4 KHz sudah memadai. Untuk sinyal digital dengan kecepatan r simbol perdetik memerlukan bandwitdh minimal sebesar r/2.

Untuk transmisi informasi yang tidak real-time, bandwidth yang tersedia menentukan kecepatan maksimal transmisi sinyal. Waktu yang diperlukan untuk mengirim sinyal informasi berbanding terbalik dengan ketersediaan bandwidth. Jadi semakin besar bandwith yang tersedia, semakin cepat waktu transmisi yang diperlukan.

3. Noise

Dalam sistem komunikasi, sinyal selalu mengalami degradasi (penurunan) mutu. Degradasi ini, selain diakibatkan oleh noise, juga berasal dari distorsi dan interferensi yang bisa mengubah bentuk sinyal. Walaupun kontaminasi sinyal bisa terjadi pada tiap elemen komunikasi, tapi konvensi standar menyatakan bahwa secara keseluruhan penyebab itu ditimpakan pada kanal. Distorsi adalah gangguan pada bentuk gelombang karena sistem memberi respon yang tidak tepat terhadap sinyal itu sendiri. Distorsi linear bisa diperbaiki dengan menggunakan filter khusus yang disebut equalizer. Interferensi adalah kontaminasi oleh sinyal lain yang berasal dari pemancar lain, power lines, switching circuit dsb. Interferensi paling sering terjadi dalam sistem radio. Radio Frequency Interference (RFI) juga muncul dalam media kabel jika kabel transmisi tersebut atau rangkaian penerima menangkap sinyal yang diradiasikan dari suatu sumber yang dekat.

4. Modulasi

Modulasi adalah proses yang dilakukan pada sisi pemancar untuk memperoleh transmisi yang efisien dan handal. Modulasi melibatkan dua buah sinyal, yaitu sinyal pemodulasi, yang merepresentasikan pesan yang akan dikirim, dan carrier (gelombang pembawa) yang sesuai dengan aplikasi yang diterapkan.

Modulasi adalah variasi secara sistematis dari parameter gelombang carrier secara proporsional terhadap sinyal pemodulasi (sinyal informasi). Jika amplitudo sinyal informasi mem-variasi amplitudo suatu gelombang carrier sinus, maka akan terbentuk sinyal termodulasi amplitudo (AM-Amplitude Modulation). Variasi juga bisa diberikan pada frekuensi atau phase sinyal carrier, yang menghasilkan sinyal termodulasi frekuensi (FM) atau termodulasi phase (PM). Semua metode untuk modulasi carrier sinusoidal dikelompokkan sebagai modulasi gelombang kontinyu (Continuous Wave modulation).

Sistem transmisi jarak jauh menggunakan modulasi CW dengan frekuensi carrier jauh lebih tinggi dibandingkan komponen frekuensi tertinggi sinyal pemodulasi. Spektrum sinyal termodulasi akan merupakan suatu pita frekuensi yang berada didekat frekuensi carrier. Untuk alasan itu, dikatakan bahwa modulasi CW menghasilkan suatu pergeseran frekuensi.

Metode modulasi lain, yang disebut modulasi pulsa, mempunyai deretan pulsapulsa periodik sebagai carrier. Gambar 1.3. menunjukkan suatu bentuk gelombang PAM (Pulse Amplitude Modulation). Gelombang PAM ini terdiri dari deretan sample (cuplikan) dari sinyal analog diatasnya. Proses pengambilan sample dari sinyal analog disebut dengan proses sampling. Dengan sampling yang tepat, keseluruhan sinyal bisa direkonstruksi dari sample-nya.

Modulasi pulsa tidak menghasilkan pergeseran spektrum frekuensi yang diperlukan untuk transmisi yang efisien seperti halnya modulasi CW. Karena itu, beberapa pemancar mengkombinasikan modulasi pulsa dan modulasi CW.

5. Keuntungan Modulasi

a. Efisiensi transmisi

b. Multiplexing

c. Mengatasi batasan peralatan

d. Penanganan frekuensi

e. Mengurangi pengaruh noise dan interferensi

Berdasarkan tipe modulasi yang digunakan dan sifat dari sinyal informasi, sistem komunikasi bisa dibedakan menjadi tiga katagori :

  1. Sistem komunikasi analog. Mentransmisikan sinyal informasi analog dengan menggunakan metode modulasi analog.
  2. Sistem komunikasi digital. Mentransmisikan sinyal informasi digital dengan modulasi digital.

c. Sistem hibrid. Menggunakan modulasi digital untuk mentransmisikan sinyal analog yang telah di-sampling dan dikuantisasi.

II. Modulasi Amplitudo

1. Double SideBand-Suppressed Carrier (DSB-SC)

Dalam modulasi AM, amplitudo dari suatu sinyal carrier, dengan frekuensi dan phase tetap, divariasikan oleh suatu sinyal lain (sinyal informasi).

Gambar 2.1.(a) menunjukkan suatu rangkaian pembangkit sinyal AM. Gambar (b) adalah sinyal pemodulasi (sinyal informasi). Gambar (c) adalah sinyal carrier frekuensi tinggi. Dengan proses modulasi, amplitudo sinyal carrier akan berubah sesuai dengan amplitudo sinyal informasi, dengan frekuensi tetap, seperti pada (d). Transformasi Fourrier digambarkan dalam domain frekuensi (ω) pada (e) dan (f).

2. Penerimaan Sinyal DSB-SC

Penerimaan kembali sinyal DSB-SC φ (t) untuk memperoleh sinyal informasi f(t) memerlukan translasi frekuensi lain untuk memindahkan spektrum sinyal ke posisi aslinya. Proses ini disebut demodulasi atau deteksi dan dilakukan dengan mengalikan sinyal φ (t) dengan sinyal carrier ωc.

Prinsip yang dijelaskan di atas berlaku untuk semua sinyal selama frekuensi sinyal informasi W jauh lebih kecil daripada frekuensi carrier ωc. Kesulitan yang terjadi pada penerima adalah perlunya rangkaian yang bisa membangkitkan carrier serta rangkaian untuk sinkronisasi phase.